Thursday, 25 December 2014

KUMPULAN VIDEO LUCU DAN LAGU ANAK-ANAK

1. Anak Orok Ngorongin Maknya Buka
2. Video Bayi Berenang Buka
3. Bayi Lucu Buka
4. Video Lucu Buka
5. Tujuh Negara Terkuat Di Dunia Buka
7. Sains Qur'an Isro Mi'raj Nabi Muhammad Buka
8. Kisah dan Peristiwa Isro Mi'raj Buka
9. Polisi Tendang Penumpang Buka
10. Lagu anak Tak Kotek-kotek Buka
11. Lagu Dudidam
 Download

12. Lagu Bintang Kecil Buka
13. Lagu Naik Kereta Api Buka
14. Lagu Potong Bebek Angsa
 Download
15. Lagu Dua Mata Saya Buka
16. Cicak-cicak di dinding Buka
17. Kring-kring ada sepeda Buka
18. Bangun Tidur Ku terus mandi
19. Abang Tukang Baso

20. Kodok Ngorek

Download
21. Lagu Burung Kakak Tua Buka
22. Belajar Huruf Hijaiyah Buka
23. Huruf Hijaiyah 1 Buka
24. Belajar Huruf Hijaiyah Buka
25. Belajar Alpabet Buka
26. Konsep Dasar Bahasa Inggris Buka
27. Present Tense Buka
28. Simple Presentense Buka
29. Cara Cepat Bahasa Inggris Dalam Waktu 30 Menit Buka
30. Rahasia Mahir Berbahasa Inggris Dalam Waktu 10 Menit Buka

KUMPULAN SOFTWARE KOMPUTER




PASANG HEWAN PELIHARAAN DI DESKTOP

Mungkin kalau kita memelihara Hewan peliharaan dirumah itu sudah biasa, tapi bagaimana jika kita memelihara Hewan peliharaan secara Digital di Komputer kita, tepatnya di Desktop sobat akan tampil beberapa hewan peliharaan yang tidak kalah Lucu dengan aslinya. Worm Deskmate dan Cat Deskmate, merupakan Aplikasi yang bisa mewujudkan keinginan kita tersebut. Kita bisa memilih antara Cacing atau Kucing yang ingin kita jadika hewan peliharaan di Desktop kita, dengan tingkah laku yang tidak bisa diam, pastinya akan membuat kita lebih bersemangat didepan komputer. Download untuk pasword semua yang ada di aplikasi ini : www.bagas31.com








Adobe Photoshope CS.5

Sebenarnya, dulu saya sudah pernah posting Adobe Photoshop CS6, nah supaya lebih lengkap lagi, kali ini saya membagikan pendahulunya, yaitu Adobe Photoshop CS5 Extended. Adobe Photoshop adalah salah satu software Photo Editor yang paling populer, karena fitur-fiturnya yang sangat canggih, bahkan banyak pihak yang mengatakan bahwa Adobe Photoshop ini merupakan software Photo Editor nomor 1 di dunia. Walaupun Adobe Photoshop CS5 ini bukanlah versi terbaru dari Adobe Photoshop, namun fitur-fitur yang terdapat di dalamnya tidak kalah dari Adobe Photoshop CS6 loh. Download



TUTORIAL 
 1. Cara Cetak Foto sesuai ukuran Buka
 2. Cara mengganti warna baju  Buka
 3. Cara menganti background pas foto Buka
 4. cara mencerahkan wajah Buka
 5. Care menghaluskan wajah Buka
 6. Cara menghilangkan jerawat Buka
 7. Cara mengganti wajah Buka
 8. Cara menyatukan gambar Buka 
 9. Cara menghapus pakaian Buka 


ADWCLEANER 2.302 PORTABLE

AdwCleaner 2.302 Portable adalah aplikasi yang sangat kecil, ringan, dan sederhana namun aplikasi ini dapat kita andalkan untuk menemukan dan menghapus semua jenis adware dan toolbar yang tidak kita inginkan. Sobat sudah tau apa itu adware? Adware adalah iklan aplikasi atau metode periklanan melalui perangkat lunak. Biasanya metode yang digunakan adware adalah bersifat tak terlihat dalam artian menyamarkan kalau itu merupakan sebuah iklan. Dan biasanya juga pengguna sedikit dikelabuhi kalau yang ditampilkan adalah bagian dari aplikasi sehingga pengguna awam komputer tidak akan menyadarinya. Adware sendiri biasanya terinstalasi dalam aplikasi dan masuk dalam sistem ketika pengguna mendownload perangkat lunak demo, freeware atau shareware dari Internet. Adware sendiri biasanya memerlukan koneksi internet jika ingin bekerja maksimal walau memang ada beberapa adware offline. Untuk lebih jelasnya apa itu adware silahkan cari di google, hehee. Download

APLIKASI PEMBELAJARAN TAJWID
Bagi sobat yang ingin belajar atau mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dengan tajwid atau bacaan yang benar, Aplikasi Belajar Tajwid inilah solusinya. Aplikasi Belajar Tajwid ini berbentuk flash file yang ringan yang delengkapi dengan gambar dan suara sehingga kita lebih mudah dan asyik untuk belajar Al-Qur’an. Download


KARAOKE SOUND TOOLS
Karaoke Sound Tools (Vocal Remover) merupakan Software yang dapat membuat sebuah Lagu/Musik untuk berkaraokean, Misalnya kita ingin menghilangkan Suara/Vocal dari si penyanyi lagu tersebut, nah Karaoke Sound Tools (Vocal Remover) merupakan software yang tepat untuk Hal tersebut. User Interface dari Karaoke Sound Tools (Vocal Remover) ini pun tidaklah terlalu Rumit, ya meskipun banyak Control yang tetap harus kita kuasai terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Download


PDF EDITOR 
Dari namanya saja mungkin sobat sudah tahu apa fungsi dari Wondershare PDF Editor 3.6 Full Keygen. Software bagus yang satu ini sering saya gunakan untuk keperluan akan dokumen-dokumen yang berekstensi .pdf , meliputi pengeditan, penggabungan maupun convert ke file berekstensi berbeda. Dengan Wondershare PDF Editor 3.6 Full Keygen, kita dapat melakukan pengeditan dokumen .pdf yang biasa kita download dari google serta kita juga bisa mengconvertnya ke file dokumen Microsoft Word, Excel , PowerPoint, maupun ke gambar. Tidak hanya itu, Wondershare PDF Editor 3.6 Full Keygen juga telah di design dengan tema yang mirip sekali dengan Microsoft Office 2013 sehingga penggunaannya lebih user frendly dan tentunya sangat bagus untuk dicoba….Download

ACDSee Pro 8.0 Build 262 Final Version
Mungkin teman-teman sudah tidak asing lagi dengan aplikasi pembaca dan pembuka gambar yang satu ini. Software ini sudah lama ada, hanya saja baru-baru ini pihak ACDSee juga mengeluarkan fitur editing untuk software pembuka gambar yang satu ini. Jadi bisa lebih banyak fitur dan menu yang bisa kita gunakan dalam satu software hebat ini. ACDSee ini merupakan pembaca dan pembuka gambar yang cukup ringan untuk dijalankan di komputer. Masih banyak lagi menu dan fitur yang wajib kamu cobain.Download
Panduan Instalasi :

  1. Matikan terlebih dahulu antivirus sobat yang ada.
  2. Instalasi ACDSee seperti biasa hingga selesai.
  3. Jalankan keygen,  pada keygen pilih ACDSee Pro 8.
  4. Kemudian Copy “License Key ” yang ada di Keygen.
  5. Lalu,  Acdcsee Pro, Pilih “Enter Your Licence”, paste kan “License Key ” yang telah di Copy dari Keygen tadi.
  6. Kemudian klik next, nanti akan muncul tulisan register later, klik tulisan tersebut.
  7. Secara otomatis, acdsee akan melakukan restart
  8. Pilih “Enter Application Unlock Code” , Di situ sobat akan menemukan “Request Code “
  9. Copy “Request Code ” nya yang ada di acdsee ke keygen, kemudian klik “Gen Unlock”
  10. Setelah Muncul “Aplication Unlock Code “, copy dan paste Ke Kolom Unlock Kode ACDSee Pro nya, dan kemudian Klik “verify”.
  11. Selesai. 
COREL DRAW X7
Siapa yang tidak mengenal Corel Draw? Salah satu software desain berbasis vektor ini banyak diminati oleh kalangan orang karena kemudahannya, mulai dari anak sekolah hingga desainer grafis. Pada tahun 2014 ini Corel Draw mengeluarkan versi terbarunya yaitu X7, fitur baru Corel Draw X7 Graphics Suite versi ini yaitu tabulasi (memudahkan kita bernavigasi antara canvas), preview jenis font, kostumisasi letak tool, dan masih banyak lagi, serta menampilkan wajah yang lebih segar. Download


Panduan Instalasi:
Versi teks:

  1. Matikan koneksi internet.
  2. Jika muncul kotak kuning di atas >> click >> allowed blocked content.
  3. Install seperti biasa, dan sobat pilih yang “I do not have a serial number and want to try the product”, username BAGAS31.
  4. Pilih typical, pilih custom untuk kostumisasi Corel.
  5. Jika instalasi sudah selesai, buka corel draw X7 nya pilih register later. Jika sudah terbuka langsung exit.
  6. Akan muncul kotak Corel Draw ini bisa dipakai sampai 30 hari lagi, dan klik tulisan “Already Purchased?” di pojok kanan bawah.
  7. Buka keygen, pilih program di keygennya Corel Draw Graphics Suite X7 >> generate serial dengan klik Generate Serial Number jika sudah copy kan serial tersebut ke kotak Corel Draw yang tadi.
  8. Jika sudah di copy kan, klik Activate Offline, ingat pastikan internet sobat sudah mati ya.
  9. Copy kan 24 digit Installation Code beserta tanda strip “-” ke keygen, jika sudah klik “Generate Activation” pada keygen.
  10. Copy kan lagi Activation Code yang didapatkan dari keygen ke kotak Corel Draw yang tadi, dan klik Continue, jika ada error klik ok saja.

KUMPULAN MAKALAH PENDIDIKAN ISLAM

1. Pengertian Pendidikan Islam Buka
2. Tujuan Pendidikan Islam Buka
3. Dasar Pendidikan Islam Buka
4. Karakteristik Pendidikan Islam Buka
5. Ruang Lingkup, Kegunaan dan Objek Ilmu Pendidikan Islam Buka
6. Asas-asas Pendidikan Islam Buka
7. Batas-batas Pendidikan Islam Buka
8. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Buka
9. Kurikulum Pendidikan Islam Buka
10. Konsep Kurikulum Pendidikan Islam Buka
11. Materi Kurikulum Dalam Pendidikan Islam Buka
12. Kurikulum Lembaga Pendidikan Islam Buka
13. Sejarah Pendidikan Islam Buka
14. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Buka
15. Sejarah Pendidikan Islam Pra Kemerdekaan Buka

Saturday, 20 December 2014

SEJARAH MAULID NABI


Asal muasal Maulid Nabi, yaitu berasal dari kaum bathiniyyah (kebatinan) yang memiliki dasar-dasar akidah Majusi dan Yahudi yang menghidupkan syiar-syiar kaum salib; maka di sini kita perlu mengatakan kepada orang-orang yang menilai masalah secara proporsional, logis dan obyektif:
“Apakah benar jika kita menjadikan orang-orang seperti itu sebagai sumber ibadah kita dan syiar agama kita?”
Sementara kita mengatakan
“Sesungguhnya abad-abad awal yang diutamakan oleh Allah, tempat para panutan kita -salafuna shalih- hidup tidak ada secuilpun bagi adanya ibadah semacam ini, apakah dari ulamanya ataupun dari masyarakat awamnya. Tidakkah cukup bagi kita apa yang dahulu cukup bagi mereka, salafus shalih itu?”
Orang yang memperhatikan sejarah Nabi saw, serta sejarah para sahabat dan para tabi’in serta atba’ tabi’in bahkan hingga generasi sesudah tahun 350 H, tidak akan mendapatkan seorangpun dari umat Islam yang mengadakan mauludan atau Perayaan Maulid Nabi, atau memerintahkannya, atau bahkan membicarakannya. Imam al-Hafizh as-Sakhawi al-Syafi’i dalam fatawanya berkata: “Perayaan maulid tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih di tiga zaman yang utama. Akan tetapi hal itu terjadi setelah itu.” (Mengutip dari Subulul Huda war-Rasyad (1/439), karya al-Shalihi, cetakan Kementrian Waqaf Mesir.)\
Jadi pertanyaannya yang sangat mengusik adalah: Sejak kapan Perayaan Maulid ini ada? Apakah diadakan oleh para ulama, atau para raja, atau oleh para khulafa` ahlus sunnah yang dipercaya agamanya? Ataukah dari orang-orang yang menyimpang dan memusuhi sunnah? (Nashir ibn Yahya al-Hanini, dalam al-Maulid an-Nabawi, Tarikhuh, Hukmuh, Atsaruh) (www.saaid.net/mktarat/Maoled/1.htm)
Pertanyaan ini dijawab oleh para ulama Islam, diantaranya oleh Syaikhul Azhar Syaikh Athiyah Shaqr:
“Para sejarawan tidak mengetahui seorangpun yang merayakan Maulid Nabi sebelum Dinasti Fathimiyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Hasan as-Sandubi.
Mereka merayakan Maulid Nabi di Mesir dengan pesta besar. Mereka membuat kue dalam jumlah besar dan membagi-bagikannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qalqasandi dalam kitabnya Shubhul A’sya.” Lalu Syaikh Athiyah mejelaskan urutan sejarah maulid sebagai berikut:
Pertama:
Di Mesir. Orang-orang Fathimiyyah merayakan berbagai macam maulid untuk ahlul bait. Yang pertama kali melakukan adalah al-Muiz lidinillah (341-365H) pada tahun 362 H. Mereka juga merayakan Maulid Isa (natalan) sebagaimana dikatakan oleh al-Maqrizi as-Syafi’i dalam kitab as-Suluk Limakrifati Dualil Muluk. Kemudian Maulid Nabi- begitu pula maulid-maulid yang lain- pada tahun 488 H karena khalifah al-Musta’li billah mengangkat al-Afdhal Syahinsyah ibn Amirul Juyusy Badr al-Jamali sebagai mentri. Ia adalah orang kuat yang tidak menentang ahlus sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir dalam kitabnya al-Kamil: 5/302. Hal ini berlangsung hingga kementrian diganti oleh al-Makmun al-Bathaihi, lalu ia mengeluarkan instruksi untuk melepas shadaqat (zakat) pada tanggal 13 Rabiul Awal 517 H, dan pembagiannya dilaksanakan oleh Sanaul Malik. (Mei 1997, Fatawa al-Azhar: 8/255)
Sejarahwan sunni Syaikh al-Maqrizi al-Syafi’i (854 H) dalam kitab al-Khuthath (1/490 dan sesudahnya) berkata:
“Menyebut hari-hari di mana para khalifah Fathimiyyah menjadikannya sebagai hari raya dan musim perayaan, pesta besar bagi rakyat dan banyak kenikmatan di dalamnya untuk mereka.”
Lalu dia mengatakan:
“Adalah para khalifah Fathimiyyah di sepanjang tahun memiliki hari-hari raya dan hari-hari besar, yaitu: Hari Raya Tahun Baru, Hari Raya Asyura`, Hari Raya Maulid Nabi saw, Hari Raya Maulid Ali ibn Abi Thalib ra, Maulid Hasan dan Husain as, Maulid Fathimah as, Maulid Khalih al-Hadir (yang sedang berkuasa), Malam Awal Rajab, Malam Nishfu Sya’ban, Malam Ramadhan, Ghurrah (awal) Ramadhan, Simath (tengah) Ramadhan, Malam Khataman, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Kurban, Hari Raya Ghadir (Khum), Kiswah as-Syita` (pakaian musim hujan), Kiswah as-Shaif (pakaian musim panas), Hari Besar Pembukaan Teluk, Hari Raya Nairuz (tahun Baru Persia), Hari Raya al-Ghuthas, Hari Raya Kelahiran, Hari Raya Khamis al-Adas (khamis al-ahd, 3 hari sebelum Paskah), dan hari-hari Rukubat.”
Sementara dalam kitab Itti’azhul Khunafa` (2/48) al-Maqrizi berkata: (pada tahun 394 H) “Pada bulan Rabiul Awal manusia dipaksa untuk menyalakan kendil-kendil (lampu) di malam hari di rumah-rumah, jalan-jalan dan gang-gang di Mesir.” Di tempat lain (3/99) ia berkata: (pada tahun 517 H)
”Dan berlakulah aturan untuk merayakan Maulid Nabi yang mulia pada bulan Rabiul Awal seperti biasa.” Untuk keterangan lebih lanjut mengenai apa yang terjadi saat perayaan Maulid Nabi dan besarnya walimah maka silakan merujuk pada al-khuthath; 1/432-433; Syubul A’sya, karya al-Qalqasandi: 3/498-499).
Setelah mengutip kutipan di atas maka Syaikh Nashir ibn Yahya al-Hanini penulis al-Maulid an-Nabawi menyimpulkan: “Dari kutipan di atas, renungkanlah bersama saya. Bagaimana Maulid Nabi dikumpulkan bersama bid’ah-bid’ah besar seperti:
a)      Bid’ah Syi’ah dan ghuluw (kultus) terhadap ahlul bait yang tercetus dalam Maulid Ali, Maulid Fathimah, Maulid Hasan dan Husain.
b)      Bid’ah hari besar Nairuz, hari raya Ghuthas, dan hari maulid Isa (natal), yang kesemuanya adalah hari raya Kristen. Ibnul Turkmani dalam kitabnya al-Luma’ fil Hawadits wal Bida’ (1/293-316) berkata tentang hari-hari raya milik Nashari tersebut: “Pasal, termasuk bid’ah dan kehinaan adalah apa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada Hari Raya Nairuz milik Nasrani dan hari-hari besar mereka, yaitu ikut menambah uang belanja (lebih dari hari biasanya).” Ia berkata,
“Nafkah ini tidak akan diganti (oleh Allah) dan keburukannya akan kembali kepada orang yang mengeluarkannya, cepat atau lambat.”
Lalu dia berkata, “Di antara sedikitnya taufiq dan kebahagiaan adalah apa yang dilakukan oleh orang muslim yang buruk pada hari yang disebut dengan hari Natal (kelahiran/ maulid Isa).”
Kemudian ia mengutip ucapan ulama-lama Madzhab Hanafi bahwa siapa yang melakukan perkara-perkara di atas dan tidak bertaubat maka ia kafir seperti mereka.
Kemudia ia menyebut hari-hari raya Nasrani yang biasa diikuti oleh orang-orang Islam yang jahil. Dia menjelaskan keharamannya berdasarkan al-Quran dan Sunnah melalui kaedah-kaedah syariat. Dengan demikian, maka yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi adalah Banu Ubaid yang dikenal dengan sebutan Fathimiyyiin.

Kedua:
Di Mesir. Ketika datang Dinasti Ayyubiyah (yang dimulai pada saat Shalahuddin al-Ayyubi menggulingkan khalifah Fathimiyyah terakhir al-Adhidh Lidinillah pada tahun 567 H/ 1171 M ) maka dibatalkanlah semua pengaruh kaum Fatimiyyin di seluruh wilayah negara Ayyubiyah, kecuali Raja Muzhaffar yang menikahi saudari Shalahuddin al-Ayyubi ini. Perayaan maulid ini kembali dihidupkan di Mesir pada masa Mamalik, pada tahun 922 H oleh khalifah Qanshuh al-Ghauri. Kemudian, tahun berikutnya 923 H ketika Orang-Orang Turki Usmani memasuki Mesir maka mereka meniadakan maulid ini. Namun setelah itu muncul kembali. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Iyas.

Ketiga:
Irak. Kemudian di awal abad ke-7 H perayaan maulid menjadi acara resmi di kota Arbil, melalui sultan Muzhaffaruddin Abu Said Kukburi ibn Zainuddin Ali Ibn Tubaktakin. Dia seorang Sunni (bukan Syi’ah seperti bani Ubaid Fatimiyyin). Dia membuat kubah-kubah di awal bulan Shafar, dan menghiasinya dengan seindah mungkin. Di hari itu, dimeriahkan dengan nyanyian, musik dan hiburan qarquz,  Gubernur menjadikannya sebagai hari libur nasional, agar mereka bisa menonton berbagai hiburan ini. Kubah-kubah kayu berdiri kokoh dari pintu benteng sampai pintu al-Khanqah. Setiap hari setelah shalat ashar Muzhaffaruddin turun mengunjungi setiap kubah, mendengarkan irama musik dan melihat segala yang ada di sana. Ia membuat perayaan maulid pada satu tahun pada bulan ke delapan, dan pada tahun yang lain pada bulan ke 12. Dua hari sebelum maulid ia mengeluarkan onta, sapi dan kambing. Hewan ternak itu diarak dengan jidor menuju lapangan untuk disembelih sebagai hidangan bagi masyarakat.
Sementara menurut Abu Syamah dalam kitab al-Ba’its ala Inkaril Bida’ wal-Hawadits mengatakan: Orang yang pertama melakukan hal tersebut di Mosul (Mushil) adalah syaikh Umar ibn Muhammad al-Mulla salah seorang shalih yang terkenal, maka penguasa Arbil meniru beliau.” Para sejarawan termasuk Ibnu Katsir dalam Tarikhnya menyebutkan bahwa perayaan maulid yang diadakan oleh Raja Muzhaffar ini dihadiri oleh kaum shufi, melalui acara sama’ (pembacaan qashidah dan nyanyian-nyanyian keagamaan kaum shufi) dari waktu zhuhur hingga fajar, dia sendiri ikut turun menari/ bergoyang (semacam joget-ala shufi). Dihidangkan 5000 kambing guling, 10 ribu ayam dan 100.000 zubdiyyah (semacam keju), dan 30.000 piring kue. Biaya yang dikeluarkan untuk acara ini –tiap tahunnya- sebesar 300.000 Dinar. Syaikh Umar ibn Muhammad al-Mulla yang menjadi panutan sultan Muzhaffar adalah seorang shufi yang setiap tahun mengadakan perayaan maulid dengan mengundang umara, wuzara (para mentri) dan ulama (shufi). Ibnul Hajj Abu Abdillah al-Abdari berkata, “Sesungguhnya perayaan ini tersebar di Mesir pada masanya, dan ia mencela bid’ah-bid’ah yang ada di dalamnya.” (Al-Madkhal: 2/11-12) Pada abad ke 7 kitab-kitab maulid banyak ditulis, seperti kisah ibn Dahiyyah yang meninggal di Mesir w. 633 H, Muhyiddin Ibnul Arabi yang wafat di Damaskus tahun 638 H, ibnu Thugharbek yang wafat di Mesir tahun 670 H, dan Ahmad al-’Azli bersama putranya Muhammad yang wafat tahun 677 H.
Karena banyaknya bid’ah-bid’ah yang menyertai acara maulid maka para ulama mengingkarinya, bahkan mengingkari hukum asal maulid. Di antara mereka adalah al-Fakih al-Maliki Tajuddin Umar ibn Ali al-Lakhami al-Iskandari yang dikenal dengan sebutan al-Fakihani yang wafat tahun 731 H. Dia menuliskannya dalam risalah al-Maurid fil Kalam alal Maulid. Hal ini disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya Husnul Maqshad.
Kemudian Syaikh Muhammad al-Fadhil ibn Asyur berkata, “Maka datanglah abad ke 9, sementara manusia berselisih antara yang membolehkan dan melarang. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852), as-Suyuti (849-911) dan Ibnu Hajar al-Haitami (909-974) menganggap baik, dengan pengingkaran mereka terhadap bid’ah-bid’ah yang menempel pada acara maulid. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada firman Allah yang artinya:
 “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim: 5)
Imam Nasai, dan Abdullah ibn Ahmad dalam Zawaid al-Musnad, serta al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Ubay ibn Ka’b, dari Nabi saw, beliau menafsiri hari-hari Allah dengan nikmat-nikmat Alah dan karunia-Nya.” (Ruhul Ma’ani, karya al-Alusi) Sedangkan kelahiran Nabi saw adalah nikmat Allah yang besar.
Saya katakan:
Betul, mengingatkan nikmat-nikmat Allah termasuk di dalamnya adalah Maulid Nabi saw melalui khutbah, ceramah, kajian, dan tulisan, bukan dengan hari raya dan perayaan atau pesta atau idul milad atau mauludan.[1]
Sumber Lain :
Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.
Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.
Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dariAl Maulid, hal. 20)

Fatimiyyun yang Sebenarnya
Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka.
Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”
Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”
Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)

Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah?
Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.
Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”
Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118)
Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158)
‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.
Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143)
Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
1)      Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab.
2)      Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H.
3)       Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.
4)      Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR.
Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)[2]
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Kesimpulan.
Oleh karena Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan baru dilakukan pada masa-masa jauh sesudah itu yang dipelopori oleh Fatimiyah seperti al-Muiz lidinillah (341-365H, khalifah Qanshuh al-Ghauri dari kalangan raja Muzhaffar di daerah Mesir maka saya berpendapat bahwa sebaik apapun perkara-perakara keagamaan yang dibuat oleh manusia namun pada akhirnya justru fitnah-fitnah yang terjadi di dalamnya. Yang terjadi bukanlah esensi dari keteladanan dan perjuangan Rosulullah dalam menyebarkan dan menegakkkan Islam namun perkembangannya yang dijadikan topik utama bagi yang merayakannya adalah hidangan yang besar-besar yang justru menjadi target baik dari kalangan masyarakat maupun kalangan orang-orang yang menggemborkan acara maulidan. Kalaupun dengan acara dakwah, bukan esensi dari dakwahnya yang diperhatikan dan dikaji oleh para hadirin, namun umumnya yang terjadi di masyarakat adalah banyolan dari para pendai yang dijadikan pusat perhatian. Dan mereka tidak pernah sadar ketika mereka berbelanja untuk mempersiapkan segala makanan yang akan disajikan pada saat perayaan, dimana aurot mereka tak pernah dihiraukan, padahal agama mewajibkan untuk menutupnya. Sungguh perbuatan yang terbalik. yang diperintah enggan melaksanakan tapi yang tidak diperintah oleh Allah dan Rasulnya dengan begitu nafsu melaksanakannya. Apa yang akan dikatakan Rasulullah seandainya Rasulullah masih hidup didunia ini karena melihat umatnya seperti sekarang? Berdalih mengagungkan Nabi Muhamamad tapi dari tata cara akan melaksanakan sampai tiba pelaksanaan semuanya dilakukan dengan meninggalkan ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Merupakan suatu kewajiban bagi anda semua wahai para penyelengara Maulid Nabi untuk meluruskan persepsi masyarakat yang sudah terbalik dari acara maulidan. Jangan hanya menyelenggarakan dan melaksanakan, tapi peringatkanlah terhadap kewajiban-kewajiban yang selama ini mereka tinggalkan. Bila perlu gemborkan jangan adakan maulidan sebelum para wanita menutup aurot mereka. Ini cuma pendapat saya, komentar anda merupakan suatu  masukan yang berharga untuk saya.



[1] http://www.nahimunkar.com/sejarah-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-3/
[2] https://www.facebook.com/notes/mengenal-ajaran-islam-lebih-dekat/jangan-menutup-mata-bacalah-sejarah-kelam-maulid-nabi/10150507871136650

Thursday, 18 December 2014

BUDAYA TAHLIL DAN PROBLEMATIKANYA


A.       Pengertian Tahlil
Arti Tahlil secara bahasa adalah bacaan La Ilaha Illallahu, sebagaimana Tahmid diartikan sebagai bacaan Al-Hamdu Lillah dan Tasbih diartikan sebagai bacaan Suhanallah. Akan tetapi menurut istilah yang telah berlaku, yang dimaksud tahlil ialah bacaan : Surat Al-Fatihah – Surat Al-Ikhlas 3 x – Surat Al-Falaq – Surat An-Nas – Surat Al-Fatihah – Awal Surat Al-Baqarah – Ayat Kursi – Tiga ayat akhir surat Al-Baqarah – La Ilaha Illallahu – Subhanallahu Wabihamdihi – Shalawat kepada Nabi SAW.
Tahlil merupakan tradisi kaum Ahlissunnah Wal Jamaah yang selalu dilakukan untuk mendoakan orang yang telah mati. Apabila di antara kaum muslimin ada yang meninggal dunia, maka mereka berkumpul di rumah ahli mayyit, kemudian secara bersama-sama membacakan surat-surat pendek dari Al-Qur`an dan bacaan-bacaan tahlil, tasbih dan shalawat sebagaimana disebut di atas untuk mayyit, sehingga semua bacaan tersebut akhirnya disebut Tahlil. Hal itu mereka biasakan juga pada pertemuan-pertemuan dan acara-acara hajatan sehingga menjadi tradisi yang dilakukan secara terus menerus.

B.        Sejarah Tahlil
Tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi  tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta`akhkhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istinbath dari Al-Qur`an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.
Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertamakali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Hal ini pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kiai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat, bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja`far Al-Barzanji, dan sebagian lain berpedapat, bahwa yang menyusun tahlil pertamakali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. 
Pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang disebut di atas adalah pendapat bahwa orang yang menyusun tahlil pertamakali adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, karena Imam Al-Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja`far Al-Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.
Pendapat ini diperkuat juga oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam Syarah Ratib Al-Haddad  , bahwa kebiasaan Imam Abdullah Al-Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin dalam majlis Imam Al-Haddad itu ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali, kemudian mengucapkan :   
"لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ"[1]

C.       Sejarah Tahlil Di Indonesia
Sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia, kepercayaan yang dianut oleh bangsa Indonesia antara lain adalah paham animisme. Menurut paham ini, ruh dari orang-orang yang sudah mati itu sangat menentukan bagi kebahagiaan dan kecelakaan orang-orang yang masih hidup di dunia ini. Disamping itu, bangsa-bangsa yang menganut paham animisme ini juga berkeyakinan bahwa ruh dari orang yang sedang mengalami kematian itu tidak senang untuk meninggalkan alam dunia ini sendirian tanpa teman, dan ingin mengajak anggota keluarganya yang lain.
Untuk itu, agar anggota keluarga yang mati itu tidak mengajak anggota keluarga yang lain, maka anggota keluarga yang ditinggal mati itu melakukan hal-hal yang antara lain sebagai berikut:
Menyembelih binatang ternak seperti: kerbau, sapi, kambing, babi, atau ayam milik si mayit, agar nyawa dari binatang tersebut menemani ruh si mayit agar tidak me-ngajak anggota keluarganya yang masih hidup; dan memberikan atau menyediakan sesaji di tempat tertentu untuk ruh si mayit, agar ruh si mayit itu tidak marah kepada anggota keluarganya.
Setelah tiga hari dari kematian, yaitu saat mayit yang sudah di tanam dalam kubur mulai membengkak, di tempat tidur orang yang mati bagi orang Jawa dan di atas buffet yang telah dipasang foto dari orang yang mati bagi orang Cina, diberikan se-saji agar ruh dari orang yang mati tidak marah. Demikian pula pada hari ketujuh, ke empat puluh, keseratus, satu tahun, dua tahun dan keseribu dari hari kematiannya.
Bagi orang Cina, anggota keluarga yang mati itu diinapkan di rumah duka beberapa hari lamanya, dan selama itu papan nama dari rumahnya disilang dengan kertas hitam atau lainnya untuk mengenalkan kepada ruh si mayit bahwa rumahnya adalah yang papan namanya diberi silang. Dan setelah mayit dikubur, maka tanda silang tersebut di buang, dengan maksud agar apabila ruh si mayit tersebut pulang ke rumahnya, ruh itu tersesat tidak dapat masuk ke dalam rumahnya, sehingga tidak dapat mengganggu anggota keluarganya.
Bagi orang Jawa ada yang menyebarkan beras kuning dan uang logam di depan mayit sewaktu mayit di bawa ke pekuburan dengan maksud untuk memberitahukan kepada si mayit bahwa jalannya dari rumah sampai ke pekuburan adalah yang ada beras kuning dan uang logamnya. Sehingga jika ruh si mayit ingin pulang ke rumah untuk mengganggu anggota keluarganya dia tersesat, sebab beras kuning dan uang logam di jalan yang dilaluinya sudah tidak ada lagi karena beras kuningnya sudah dimakan oleh ayam atau burung, sedang uangnya sudah diambil oleh anak-anak. Ada pula yang mengeluarkan jenazah dari rumah tidak boleh melalui pintu rumah, tetapi harus dibobolkan pagar rumah yang segera ditutup kembali setelah jenazah dibawa ke kubur dan lainnya lagi dengan maksud agar ruh si mayit itu tidak dapat kembali lagi ke rumahnya.
Pada waktu agama Hindu dan agama Budha masuk di Indonesia, kedua agama ini tidak dapat merubah tradisi yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia yang berpaham animisme tersebut, sehingga tradisi tersebut berlangsung terus sampai saat agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para penganjur Islam yang kemudian terkenal dengan nama Wali Songo.[2]
Versi lain menyatakan yang hampir sama bahwa sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai macam kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, diantaranya keyakinan-keyakinan yan mendominasi saat itu adalah Animisme dan Dinamisme. Diantara mereka menyakini bahwa arwah yang telah di cabut dari jasadnya akan gentayangan disekitar rumah selama tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya atau mereka menyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia kan kembali ketempat tersebut (dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan orang awam ditanah air ini sampai hari ini). sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai dengan keyainan mereka.
Setelah Islam masuk dibawa oleh ulama yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang menyelisihi syariat Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan-bacaan thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bias berubah sedikit demi sedikit dan meninggalkan acara tersebut menuju acara Islam yang murni. Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kaimat toyyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para ulama yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan.
Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian seterusnya, kemudian pembacaan kalimat toyyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga sering kita jumpai acara tahlilan disuatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain (ini menunjukan bahwa acara yasinan dn tahlilan sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh nabi kita dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat yang mulia dan juga bukan termasuk sunnah, seandainya mereka telah melakukannya pasti sampai khobarnya kepada kita bagaimana prosesi acara tersebut, sebagaimana sunnah-sunnah yang jelas disyariatkan dan telah mereka lakukan, sehingga kita mengetahui bagaimana kita harus mengamalkannya sesuai dengan contohnya.) [3]

Sementara versi lain lagi menyatakan bahwa bagi kebanyakan umat islam yang kurang faham sejarah, ada anggapan bahwa adat kebiasaan dan tradisi keagamaan yang di lakukan kalangan muslim tradisional adalah pencampur-adukan antara ajaran hindu-buddha dengan islam. Mereka itu, tanpa di dukung data sejarah sedikitpun menyatakan bahwa tradisi keagamaan tentang kenduri dan memperingati orang mati pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, dan ke 1000, adalah warisan hindu buddha, padahal dalam agama hindu dan buddha tidak di kenal kenduri peringatan orang mati pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, dan ke 1000. [Agus sunyoto. Sunan ampel raja surabaya. Hal: 84]
Bertolak dari fakta sosio-kultural religius pada masyarakat jawa pasca majapahit, sunyoto (1990) menyimpulkan, bahwa upacara peringatan orang mati pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, dan ke 1000 termasuk khaul adalah tradisi khas campa yang jelas jelas terpengaruh faham syiah [Agus sunyoto. Sunan ampel raja surabaya. Hal: 86]
Mencermati tulisan ahli sejarah agus sunyoto ini, dapat di simpulkan bahwasannya acara tahlilan yang di lakukan oleh mayoritas muslim nusantara khususnya kaum nahdliyin, itu sudah di kenal di masa majapahit (zaman wali songo). Akan tetapi di satu sisi agus sunyoto tidak mengkaji sumber asal muasal sedekah orang meninggal pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke100, dan ke 1000 tersebut dari kitab para ulama yang ada, sehingga beliau menyimpulkan bahwa tradisi tersebut merupakan ajaran yang bersumber dari faham syiah. Padahal imam suyuti telah menjelaskan di dalam kitabnya
Al hawi lil fatawi
ان سنة الاطعام سبعة‎ ‎أيام بلغني أنها مستمرة إلى الان بمكة والمدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابةإلى الان وانهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول
Telah sampai kepadaku bahwasannya kesunahan bersedekah selama 7 hari itu telah berlangsung di mekah dan madinah hingga sekarang. Maka secara dzohir di simpulkan bahwa sedekah tersebut tidak pernah ditinggalkan mulai dari zaman para sahabat sampai sekarang. Para generasi terkemudian (kholaf) telah mengambilnya secara turun temurun dari generasi terdahulu (salaf) sampai masa generasi pertama [imam As-suyuti. Al hawi lil fatawi. 3/288]
Dan pembacaan tahlil yang di khususkan untuk orang orang yang telah meninggal juga menjadi tradisi turun temurun di hadramaut yaman tempat berdiamnya para ahlul bayt dzurriyah nabi muhammad SAW. Sejarah tersebut dapat di temukan dalam kitab Al ilmun nibros tulisan sayyid al habib Abdulloh bin alwi bin hasan Al attos. Di kitab tersebut di jelaskan:
ويجمع بعضهم جماعة يسبحون ألف تسبيحة ويهللون ألف تهليلة ويهدي ثوابها لبعض الأموات
Sebagian dari mereka (ahlul bayt di hadramaut) mengumpulkan para jamaah yang membaca tasbih dan tahlil sebanyak 1000 kali, kemudian mereka menghadiahkan pahalanya kepada orang orang yang telah meninggal dunia. [Al ilmun nibros. Hal: 5]
Jika di mekah dan madinah telah di kenal tradisi sedekah selama 7 hari, dan di hadramaut telah di kenal pembacaan tahlilan, maka ulama wali songo yang notabene merupakan keturunan ahlul bayt dari hadramaut tersebut, mengingat para ulama ahlul bayt merupakan orang orang yang sangat menjaga kemurnian ajaran yang di dapat secara turun temurun yang bermuara kepada imam jakfar sodiq sampai kepada Rosululloh SAW, dapat dipastikan wali songo telah membawa tradisi itu dari sana, bukan dari iran tempat yang menjadi pusat syiah.
Bukti bahwasannya walisongo merupakan keturunan para sadah hadramaut ialah, bahwasannya sayyid ahmad Rahmatulloh yang di kenal dengan sebutan sunan ampel merupakan putra dari sayyid ibrahim zainal akbar (asmoro) bin sayyid husain zainal akbar bin sayyid ahmad bin sayyid abdulloh bin sayyid abdul malik Azmatkhan beliau yang hijrah ke india bin sayyid Alwi ammil faqih (hadramaut) bin muhammad sohib marbath bin sayyid Alwikholi' qosam bin sayyid muhammad bin sayyid Alwi bin sayyid ubaidillah bin sayyid ahmad al muhajir ilallloh sampai kepada Rosululloh SAW.
dengan begitu, tradisi yang terkenal dengan tahlilan merupakan perkawinan tradisi mekah dan madinah serta hadramaut. Yang kebetulan masyarakat jawa kala itu sudah terbiasa dengan sesajen ala hindu. Sehingga tradisi tahlilan ini sangat mudah di terima oleh mereka setelah di sampaikan oleh para wali penyebar islam.[4]
Bertolak dari berbagai perbedaan pendapat sejarah Tahlilan di atas penulis menympulkan bahwa Tahlilan mulai diadakan jauh setelah masa Rasulullah dan para Sahabat  yaitu pada tahun 1132 H yang dipelopori oleh Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, walaupun ada versi lain yang menyatakan bahwa Tahlilan sudah dimulai sejak zaman para sahabat sampai sekarang yang dalam bentuk sedekah 7 hari namun yang perlu diperhatikan adalah kata-kata “sahabat”, apakah sahabat yang mengarang kitab ataukah yang dimaksud Shahabat Rasulullah Saw yakni Khulafa ‘Arrasyidin, tetapi kalau memang beliau-beliau, penulis  sendiri belum menemukan atau bahkan belum pernah mendengar dari seorang ulamapun bahwa sahabat Rasulullah melakukan seperti itu.

D.       Problematika Praktek Tahlilan
Meskipun acara tahlilan terdengar/terlihat begitu baik karena tujuannya adalah menghadiahkan pahala ke orang yang sudah mati. Namun dizaman sekarang tujuannya sudah jelas berbeda. Dimana kalau zaman dulu mungkin melakukan ritual semacam itu dilakukan secara ikhlas dalam rangka membantu dan menolong orang yang sudah meninggal dunia agar diberi ampunan oleh Allah Swt, berbeda dengan praktik yang dilakukan oleh orang-orang sekarang sebagaimana yang penulis amati bahkan yang pernah penulis alami dan tanyakan kepada rekan-rekan yang ikut melakukan tahlilan ke rumah keluarga mayit, mereka yang melakukan itu khususnya dari kalangan pendo’a, bukan lagi berniat ikhlas dalam rangka menolong si mayit, akan tetapi mereka kini umumnya mengharapkan imbalan materi, ada juga yang menggerutu bahkan menjadikannya sebagai proyek keagamaan umumnya kiyai dari kalangan yang kerjaannya tok cuma mendo’akan orang lain.
Kemudian juga, antara orang yang kaya dengan orang yang miskin jauh berbeda keramaian dari orang yang mendo’akannya. Orang kaya lebih banyak dikunjungi oleh para kiyai sementara kalau yang meninggal dari kalangan orang yang miskin mereka enggan, Jangankan mendo’akan secara panjang lebar mendatangi/menghibur keluarga dari mayit pun tidak. Ini adalah awal dari fitnah tahlilan.
Para kiyai yang mengadakan acara tahlilan memberikan dalih bahwa yang hidup harus bershodakoh terhadap si mayit. Tapi kenyataanya justru keluarga mayit yang harus mengeluarkan segala kebutuhan orang yang mendo’akan, ironisnya mereka sampai hutang kalaupun tidak mampu melakukannya, mereka takut kalau nanti dikatakan muhammadiyah. Padahal setiap hari shalat bolong-bolong dan tidak memakai jilbab bagi kaum wanita yang sudah diwajibkan memakainnya tidak pernah merasa takut dan malu kalau-kalau nanti dikatakan bukan ahli sunah wal jama’ah. Hehehe.., sayangnya kalau ada orang yang tidak melakukan kewajiban menutup aurot atau tidak shalat mereka tidak mengatakan bukan ahli sunah wal-jama’ah, tapi kalau ada yang tidak melakukan tahlilan kiyainya lah yang pertama kali mengatakan kepada murid/masyarakatnya bahwa orang yang tidak melakukan tahlilan itu muhammadiyah. Padahal kalau dikaji secara arti bahasa, muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang paling unggul karena maknanya pengikut Nabi.
Seharusnya, kalau awalnya baik perjalanannya pun harus baik pula, kalau pepatah orang serang mengaratakan “asale bagus kudu bagus”, akan tetapi saya tidak heran, karena tahlilan bukan merupakan perkara yang harus atau diwajibkan melakukannya bahkan bukan merupakan wahyu dari Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya. Tetapi Tahlilan merupakan budaya yang berarti hasil  rasa, cipta dan karsa manusia. Artinya, sebagus apapun yang diciptakan manusia tidak luput dari potensi perkara-perkara yang tidak baik. Berbeda dengan Hasil karya, rasa dan Cipta Allah seperti Shalat, Zakat, Puasa dan sebagainya dimana tidak akan terjadi intimidasi terhadap orang yang tidak mampu. Semuanya diperlakukan sama dalam melakukan hal ibadah walaupun caranya berbeda bagi orang yang sedang diberi keringanan umpamanya sedang sakit. sehingga tidak menjadikan fitnah diantara umatnya.

E.        Kesimpulan
Jikalau, apabila, kalau ternyata memang betul, Tahlilan merupakan sunahnya para ulama terdahulu yang masanya begitu jauh dari kalangan para sahabat, hilangkan budaya amplop dan makan-makan dalam perkara ibadah (tahlilan), wis mencengis bae, gawa sekul dewek, gawa rokok dewek, gawa kopi dewek, arep serenteng tah,  karena semua itu yang membuat penyakit hati seorang yang beragama. Dalam perkara agama,  semuanya hadiahnya dari Allah dan langsung dijanjikan oleh Allah, itupun kalau merupakan wahyu yang harus dikerjakan oleh Umatnya.





[1] http://ppal-itqon.blogspot.com/2013/03/buku-tahlil-sejarah-dan-argumentasinya.html
[2] https://guesichsan.wordpress.com/2009/07/07/waktu-pelaksanaan-tahlil/
[3] http://viagrafika.blogspot.com/2013/01/asal-usul-yasinan-dan-tahlilan.html
[4] http://karyawanfb.mwb.im/sejarah-awal-mula-munculnya-tradisi-tahl.xhtml